A Backpacker Line (Part 2) – The Forgotten

A Backpacker Line (Part 2) – The Forgotten

“Lihatlah sesuatu yang tak bisa kau lihat dengan inderamu, Lihatlah dengan pandangan yang luas!”


Berjuta bintang dilangit,
Berjuta pula harapan di bumi,
Berjuta keinginan dalam setiap kehidupan.

Gemerlap malam yang penuh dengan rahasianya,
Cahaya temaram yang menuntun setiap langkah,
Menuju tempat yang tak terjamah,
Menyerbak kehidupan malam yang semakin pudar.

Satu yang bersinar,
Satu jua harapan yang mungkin terkabulkan.

“Tin, ngga cape?”
Ia terus mendorong gerobaknya yang kosong. Keringat mengucur dari setiap tubuhnya yang terlihat rapuh. Kemudian ia berhenti sambil menghela nafas.
“Hufft..... bentar lagi Ndah. Tuh udah deket”
Endah masih berada dipersimpangan.

Malam ini tak seperti biasanya. Lalu lintas cenderung tenang, kadang lengang. Seakan jalanan bagai pelataran rumah mereka. Sebuah mimpi dan kehidupan yang terabaikan.

“Ndah, ini hasilku”
Entin memberikan beberapa lembar uang dua-ribuan kepada Endah.
“Hari ini agak seret Ntin. Kayaknya kita harus pindah ke tempat yang lain deh”, keluhnya.
Endah memasukkan uang yang diberikan Entin kedalam kaleng biskuit.
“Entahlah Ndah. Aku juga ngga tau harus kemana lagi.”
Raut wajah Entin mulai muram. Ia beranjak dan mengambil sebuah foto yang usang. Dipandanginya foto tersebut. Tak disadari air mata menetes di pipinya.
Endah menghampiri dan memeluknya.

Tiada malam tanpa rembulan,
Tiada hari tanpa ada detik, jam,
Karena rembulan bisa saja bersembunyi,
Karena waktu akan menunjukkan sebuah bukti dan jalan yang berbeda.

Setiap jalan yang kau tempuh,
Setiap langkah kaki yang menuntunmu,
Setiap waktu kau akan merasa melihat dunia yang begitu luas, namun sempit.


TBC
A Backpacker Line is a short story about real life. A Backpacker Line adalah sebuah cerita pendek yang mengisahkan tentang arti kehidupan.

Mukhamat Solikul

No comments:

Post a Comment

Translate

Instagram